Foto 1 : Fotografer asal Aceh, Zaheed Alfaqih (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
UPTUAL—Zaheed Alfaqih merupakan fotografer lanskap asal Aceh yang menjadikan alam sebagai medium utama dalam berkarya. Bagi Zaheed, alam bukan sekadar objek visual, melainkan ruang refleksi dan pembelajaran yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan, manusia, dan lingkungan.
Lahir dan besar di Aceh 28 tahun lalu, Zaheed membawa karakter daerah asalnya tenang, tangguh, dan kaya cerita ke dalam setiap karya fotografi yang ia hasilkan. Ketertarikannya pada alam tumbuh sejak kecil melalui kebiasaan menjelajahi perbukitan, hutan, dan aliran sungai secara mandiri. Aktivitas sederhana seperti memotret pepohonan dan lanskap menjadi titik awal perjalanannya menemukan fotografi sebagai bahasa visual yang paling ia pahami.
Sejak tahun 2015, Zaheed mulai menekuni fotografi secara serius. Meski menggunakan peralatan yang sederhana, ia menaruh perhatian besar pada proses: membaca lanskap, menunggu cahaya, serta menangkap momen-momen alami yang kerap luput dari perhatian. Baginya, kamera bukan sekadar alat dokumentasi, melainkan sarana untuk membangun kesadaran akan nilai kepedulian, kemanusiaan, dan relasi manusia dengan alam.
Foto 2 : Zaheed Alfaqih saat berada di kawasan wisata Djawatan Forest, Banyuwangi, Jawa Timur. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Perpindahannya ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan menjadi fase penting dalam pengembangan visual dan wawasannya. Dari kota ini, Zaheed mulai menjelajahi berbagai wilayah di Pulau Jawa, mendokumentasikan gunung, pantai, gua, air terjun, hingga desa-desa dengan kekayaan budaya lokal. Perjalanan tersebut menegaskan keyakinannya bahwa keindahan Indonesia tidak cukup hanya dinikmati, tetapi perlu diabadikan dan diceritakan.
Konsistensinya dalam berkarya membawa Zaheed ke berbagai ruang publik dan media. Karya-karyanya digunakan di sejumlah platform promosi pariwisata dan ruang strategis. Pada tahun 2025, ia menuntaskan proyek personal yang menjadi tonggak penting dalam kariernya: menjelajahi seluruh kabupaten di Aceh. Dalam perjalanan ini, Zaheed mendokumentasikan lanskap Aceh dari sudut pandang anak daerah, termasuk wilayah-wilayah yang jarang dijangkau masyarakat umum.
Hasil dokumentasi tersebut kini hadir di bandara, pelabuhan, terminal bus, hotel, pusat informasi wisata, serta media cetak dan digital yang mempromosikan pariwisata Aceh. Capaian ini tidak hanya memperkuat posisinya sebagai fotografer lanskap, tetapi juga berkontribusi langsung dalam memperkenalkan Aceh secara visual ke tingkat nasional.
Pencapaian lain diraih ketika Zaheed terpilih sebagai salah satu dari 75 peserta Mountain and Jungle Course (MJC) Eiger Adventure 2025, pelatihan outdoor bergengsi dan selektif di Indonesia. Dari ratusan pendaftar, ia menjadi satu-satunya peserta yang mewakili Provinsi Aceh. Selama pelatihan, ia mengikuti materi intensif seperti navigasi gunung, jungle survival, emergency response, manajemen risiko, rope skill, kepemimpinan, serta etika konservasi alam.
Bagi Zaheed, MJC bukan hanya penguatan kapasitas teknis, tetapi juga proses pembentukan karakter dan perspektif. Pelatihan tersebut memperdalam kesadarannya akan posisi manusia di hadapan alam dan pentingnya tanggung jawab dalam setiap aktivitas eksplorasi maupun dokumentasi.
Ke depan, Zaheed membawa misi personal untuk mendorong generasi muda Aceh agar berani menjelajahi dan mengenal wilayahnya sendiri. Melalui fotografi, ia ingin membangun narasi bahwa Aceh adalah daerah yang indah, aman, ramah, dan kaya budaya. Ia berharap anak muda dapat berperan aktif sebagai dokumentator dan pencerita, bukan sekadar penonton.
Bagi Zaheed Alfaqih, fotografi bukan hanya tentang visual yang menarik, tetapi juga tentang pesan, perjalanan, dan dampak. Filosofi hidupnya terangkum dalam prinsip “Carrier dari Hulu ke Hilir, Operasi Semut”—sebuah keyakinan bahwa langkah kecil yang konsisten, jika dilakukan dengan kesadaran, mampu membawa perubahan dan mengangkat nama daerah ke tingkat yang lebih luas. (KF)
Tags:
News